Karyawan Baru LKC
Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) kini punya dua orang karyawan baru. Mereka adalah Sdri. Nila Sari (keuangan) dan Sdr. Galih Kusuma Putra (Corsec). Kedua orang ini mulai bekerja sejak Senin (1/2) lalu. Seperti layaknya karyawan baru pada umumnya, hari-hari pertama bekerja dilalui dengan antusiasme tinggi, selain kecemasan sejauh mana kemampuan mereka dapat berguna bagi tempat kerja baru. Maklum, semuanya fresh graduate. Segar, baru keluar dari kawah candradimuka.
Hari pertama, jam pertama, langsung dijalani dengan kegiatan orientasi kantor. Dengan bantuan Ibu Reita (yang minta dipanggil sebagai Mbak Reita agar terdengar lebih muda), mereka diperkenalkan kepada hampir semua karyawan yang hadir di pagi hari itu. Sedikit karyawan yang gagal dikenalkan secara khusus pada mereka hanyalah para petugas di unit gawat darurat.
Meski bersyukur tidak harus dikerjain karyawan senior (karena bukan merupakan budaya organisasi disini) –dan semoga saja begitu seterusnya-, kedua anak muda tersebut mendapat tekanan hebat karena dipertemukan dengan puluhan orang sekaligus. “Ya maaf saja, muncul nama baru, nama yang diperkenalkan jauh sebelumnya lupa”, ujar Galih. Karena itu, strategi terbaik bila kemudian bertemu dengan orang yang sama dikesempatan berikutnya adalah memberi panggilan ampuh “Pak, Bu, Mas, Mbak, dll.”. Atau bila sedang beruntung, dapat langsung memanggil nama orang yang ditemui dengan membaca sekilas kartu pengenal yang tergantung di saku dada para karyawan.
Kedua karyawan ini kebetulan memilih angkutan umum sebagai sarana transportasi menuju kantor. Nila, lulusan Universitas Satya Negara Indonesia jurusan Akuntansi yang berdomisili di Bintaro, memerlukan waktu sekitar 35 menit untuk perjalanan dari rumah ke kantor. Galih lebih parah, jejaka asal Jogja yang masih membawa-bawa peta Jakarta didalam tasnya ini menghabiskan 1,5 jam perjalanan. “Sepertinya saya harus memilih busway agar waktu perjalanan bisa dimanfaatkan dengan membaca buku dengan lebih nyaman. Menggunakan bis kota, umur bisa sia-sia hanya dengan melihat pemandangan yang itu-itu saja. Belum lagi bila harus dioper-oper ke bis lain. Jadi, membawa buku bacaan sepertinya perlu”.
LKC memang mewajibkan karyawannya masuk pagi-pagi. Kantor mereka memulai kegiatan operasionalnya sejak pukul 07.30. Karena itu, karyawan seperi Galih harus berangkat lebih dini dari rumahnya. ”Kembali seperti SMA dulu. Mandi teramat pagi, pas berangkat sarapan belum jadi”, ujar Galih bercanda. Tapi semuanya bukan masalah atas dasar profesionalisme. Lagipula seperti yang dirasakan Nila, lingkungan kerja di LKC enak, walau dia merasa tegang di hari pertamanya. Bahkan ketika tulisan ini sedang dibuat, Nila sudah berhasil “ikut arus” dengan mengerjakan tumpukan data bagian keuangan seorang diri di depan layar. Sedang Galih? Tenang saja, kemanapun ia pergi, ada peta Jakarta kok yang selalu dibawanya. Selamat bergabung, selamat berjuang!(Gk)




