Ibu Rohibah (Tanpa Gelar Akademis Apapun)
Bila anda berkunjung ke kantor kami di kawasan Mega Mall Ciputat dan menanyakan seseorang bernama Rohibah pada para karyawan, Insya Allah sebagian besar dari mereka akan menggelengkan kepala tidak tahu.
Ibu Rohibah memang hanya orang biasa (sangat biasa malah), meski bagi Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) ia merupakan sosok yang luar biasa. Tanpa keberadaannya dan juga orang-orang senasib sepertinya, mustahil lembaga macam LKC akan dapat bertahan. Oleh karenanya, pelayanan prima dan keramahtamahan penuh seharusnya diberikan pada orang-orang seperti ini, bukan kepada para dokter spesialis, karyawan di lantai atas, bahkan bukan pada direktur LKC sekalipun. Ibu Rohibah dkk, mutlak pemicu utama mengapa LKC ada dan terus berdiri. Merekalah raja yang 100% bermakna denotatif sebagai orang-orang yang wajib kami layani, sepenuh hati.
Ketika berkunjung ke LKC medio Februari lalu, tanpa sengaja sebuah kejadian menarik mempertemukan Ibu Rohibah dengan lkc.or.id. Kami sama-sama terpana memperhatikan seorang wanita muda yang hamil dan berharap dapat melahirkan secara caesar di LKC. Datang bukan sebagai member, petugas resepsionis LKC memulai proses pendaftaran standar dengan misi “kedaruratan”. Dengan pengakuan telah hamil 9 bulan dan merasa sedikit mulas, para petugas resepsionis jelas tidak akan dapat melakukan proses verifikasi standar untuk memastikan apakah yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai dhuafa yang dapat dilayani. Namun, karena keadaan “darurat” tersebut, siapapun menurut peraturan lembaga, akan dilayani.
Berada diruangan yang sama, mau tidak mau lkc.or.id dan Ibu Rohibah mendengarkan pembicaraan yang terjadi antara petugas resepsionis dengan wanita hamil tersebut. Karena tidak dapat menunjukkan bukti-bukti sebagai keluarga tidak mampu, petugas LKC secara diplomatis menjelaskan kebijakan lembaga dalam hal-hal darurat seperti diatas. Setelah itu, barulah dimulai proses input data. Beberapa saat kemudian, suasana tidak nyaman mulai hinggap, tepatnya seusai resepsionis menanyakan data “nama suami”. Si wanita tadi memberi koreksi pada petugas kami dengan, “nama calon suami…”. Dan seterusnya. Akhir cerita, si wanita dirujuk ke RSUD Depok setelah sebelumnya diperiksa dulu oleh bidan LKC.
Dari sanalah Ibu Rohibah, yang saat itu juga sedang menjadi pasien di bagian kebidanan, memulai kontaknya dengan lkc.or.id. Di lorong yang sempit, mulailah berbagai pembicaraan yang untungnya tidak sampai menggunjingkan kasus di depan kami tadi.
Ibu Rohibah, pagi itu berniat melakukan konsultasi KB. Alat kontrasepsi yang ia gunakan dirasa kurang pas. Membawa anak bungsunya (anak ketiga), yang ternyata juga dilahirkan di LKC, Ibu Rohibah mengaku harus lima kali naik angkot untuk sampai di LKC. Berdomisili di Tangerang, ia berangkat dari rumah sejak pukul 5 pagi! Inilah harga yang harus dibayar oleh banyak pasien LKC.
Ada beberapa keluhan yang disampaikan Ibu Rohibah kepada lkc.or.id kala itu. Bagaimana repotnya bila harus bolak-balik dari rumah ke LKC hanya untuk menyelesaikan masalah administrasi. Dengan kondisi hidup yang minus, datang ke LKC mengantarkan pas foto (untuk kartu member), secara logika sangat tidak masuk akal bagi mereka. Karena itu, pada kehadirannya kali ini, Ibu Rohibah masih saja belum memegang kartu member. Fakta ini mungkin bisa menjadi masukan bagi LKC kedepan. "Apa sih repotnya melakukan survey kelayakan member sekalian membawa kamera digital"?. Langsung jepret, dan bila keluarga yang bersangkutan lulus saring kelayakan, data foto sudah ada, kartu member tinggal dikirim via pos.
Walau fakta tersebut cukup menohok lkc.or.id, namun Ibu Rohibah cukup pintar membesarkan hati. Menurutnya, LKC sangat bermanfaat. Bagi diri dan keluarga, sakit ringan cukuplah dengan mendatangi Puskesmas ditempat tinggalnya. Namun bila sakit atau keluhan dirasa cukup berat untuk ditanggung secara ekonomi, LKC lah harapan mereka. “Disini bener-bener gratis, nggak pernah saya bayar sepeserpun!”, akunya kemudian. (Gk)
:: kembali ke atas ::




