Perolehan ZISWAF th 2004-2008 Rp 2.365.273.931 | Perolehan infak sampai dengan bulan Agustus 2010 sebesar Rp.83.335.302

KESEHATAN

2010-03-02 10:36:43

Relaktasi

Air susu ibu (ASI) merupakan cairan ajaib yang dapat memenuhi kebutuhan esensial bayi hingga umur 2 tahun. Cairan sarat gizi dan antibody ini tidak dapat ditandingi oleh susu formula maupun makanan tambahan bayi manapun meski diklaim produsen banyak mengandung vitamin dan mineral. Semua ibu melahirkan sebenarnya dapat mengeluarkan ASI, namun seiring perkembangan jaman, banyak ibu yang enggan menyusui dengan berbagai macam alasan seperti ASI tidak keluar atau sedikit, bekerja, supaya praktis dan lain-lain. Paradigma inilah yang harus diubah, mengingat ASI adalah hak bagi setiap bayi.

Kamis, 31 Desember 2009, seorang ibu bernama Sri Wati datang ke LKC dengan bayinya, Zulfa yang berumur 6 bulan. Dengan berat badan yang hanya 3, 8 kg, Zulfa segera dirawat di LKC dengan diagnosa gizi buruk dan TBC paru. Bahkan belakangan Zulfa juga dicurigai mengidap kelainan jantung dan dianjurkan dirujuk ke RSJ Harapan Kita.

Hingga usianya yang ke-6 bulan, Zulfa belum pernah mendapatkan asupan ASI, karena sang ibu tidak bisa mengeluarkan ASI setetespun. Alhasil Zulfa hanya diberikan susu formula seadanya mengingat ayahnya, Sapar, bekerja sebagai tukang permak baju / celana keliling dengan penghasilan minim.

Atas inisiatif ahli gizi LKC, Dewi Hasanah, sang ibu diberikan terapi untuk memberikan ASI kembali. Sementara itu, Zulfa mendapatkan terapi gizi melalui susu khusus bayi gizi buruk melalui Feeding Tube yang ditempelkan di puting sang ibu setiap 2 jam sekali. Terapi ini merangsang Zulfa untuk menghisap sekaligus rangsangan bagi ibu untuk mengeluarkan ASI. Hal ini berlangsung selama 3 minggu di bawah pengawasan relawan dokter spesialis anak LKC, dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC.

Dengan mengonsumsi vitamin dan suplemen untuk ibu menyusui setiap hari, pada hari ke 4, sudah mulai terlihat ASI pada Ibu Sri Wati meski belum bisa menetes. Perkembangan menggembirakan terjadi di hari ke-13 dimana ASI sudah mulai keluar walaupun masih sangat sedikit. Program ini boleh dikatakan berhasil mengingat dalam kondisi normal, seorang ibu yang tidak bisa mengeluarkan ASI dalam dua hari, perlu menjalani terapi selama dua hari pula untuk bisa mengeluarkan ASI. Dalam kasus ibu Sri Wati, yang telah 6 bulan tidak dapat mengeluarkan ASI, 2 minggu terapi memang merupakan proses yang luar biasa. (Rei)

 

:: kembali ke atas ::