Perolehan ZISWAF th 2004-2008 Rp 2.365.273.931 | Perolehan infak sampai dengan bulan Agustus 2010 sebesar Rp.83.335.302

HIKMAH

2009-12-21 16:46:57

Menghitung Kerugian

Hasan Al-Bashri berkata,“Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi dirinya karena ALLAH. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan menjadi ringan bagi mereka yang telah melakukan introspeksi dunia. Sebaliknya, hisab akan terasa berat bagi mereka yang tak pernah berintrospeksi"

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLAH dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada ALLAH, Sesungguhnya ALLAH Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada ALLAH, lalu ALLAH menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik” (QS Al-Hasyr 18-19).

Introspeksi diri ( muhasabah ) adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh sahabat Rasulullaah saw. Imam Ahmad meriwayatkan, Umar bin Khathab berkata,“Hisablah dirimu sebelum dihisab! Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang! Sesungguhnya berintrospeksi bagi kalian pada hari ini lebih ringan daripada hisab dikemudian hari. Begitu juga dengan hari ‘aradl(penampakan amal) yang agung“.

Muhasabah berarti mengevaluasi diri, berapa banyak sudah bekal yang kita kumpulkan untuk menghadap kepada-NYA. Berapa banyak sudah 'amal kebaikan yang kita kumpulkan. Atau, justru kemaksiatan dan kedurhakaan yang kita taburkan. Padahal ALLAH SWT sudah berfirman, "Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi
kesabaran."( QS. Al Ashr )

Hitunglah sudah berapa banyak kita mengalami kerugian. Berapa kali kita menyia-nyiakan kesempatan untuk 'amal shalih dan bahkan sebaliknya, 'amal keburukanlah yang kita senang berputar di dalamnya. Berapa kali pula kita lalai menasehati saudara-saudara kita yang terjebak dalam kesalahan. Berapa kali pula kita tidak menjadi seorang mujahid yang sabar dan saling menasehati dalam kesabaran.

Menghitung kerugian, menyesal, lantas istighfar terlontar dari mulut kita. Tetapi tidak cukup hanya itu. Penyesalan harus dibuktikan dengan perbuatan. Perbaikan diri terus meneruslah sebagai langkah kelanjutannya.

Menghitung, menyesali diri, lantas memperbaiki diri. Begitu seterusnya setiap saat, agar kita menjadi manusia yang tidak terus merugi.


:: kembali ke atas ::