Kisah
Kisah I
Alkisah tersebutlah sebuah kapal yang sangat megah. Saking megahnya, sampai-sampai ruangan untuk penumpang di kapal itu harus dibuat terpisah berdasarkan kelasnya. Kelas yang paling murah yaitu ekonomi berada di paling bawah. Sementara itu kelas yang paling mahal, eksekutif berada di bagian paling atas, dilengkapi dengan kolam renang, beserta fasilitas-fasilitas lain yang amat sangat memanjakan penumpang kelas tersebut. Singkat cerita, berlayarlah kapal tersebut mengarungi samudera luas nan biru.
Di tengah-tengah samudera yang luas, hawa yang panas akibat perubahan iklim yang terjadi sangat drastis membuat para penumpang kehausan. Para penumpang di kelas paling mahal dan yang paling mewah mendapatkan es krim yang segar ditambah dengan berbagai jus (mmm.. sedaaappp). Sementara itu, penumpang di kelas paling murah yang notabene berada di paling bawah tidak mendapat apa-apa. Para penumpang di kelas eksekutuf berpikiran bahwa perihal makanan dan minum merupakan urusan privat sehingga mereka membiarkan saja para penumpang di bawah kehausan.
Akhirnya ada salah seorang penumpang kelas ekonomi yang agak kebangetan (tak tahu bahwa meminum air laut tak akan menghilangkan haus) langsung mengebor bagian bawah kapal itu untuk mengambil air laut. Karena yang lain menganggap hal itu urusan privat, akhirnya pengeboran itu dilakukan.
Seperti kasus lumpur panas Lapindo Brantas, air kemudian keluar tanpa henti dari lubang hasil pengeboran tersebut. Gara-gara tak ada orang yang mengingatkan hal tersebut, alhasil kapal tersebut kemasukan air dalam jumlah yang sangat besar sehingga membelah kapal tersebut menjadu dua bagian. Tenggelamlah kapal mewah itu. Percaya gag percaya, kisah ini adalah versi asli dari kisah Titanic (wakakakak… kalo sampe ada yang percaya kebangetan!).
Nah, pada akhirnya kita sampai pada saaat yang berbahagia , yaitu bahwa kesimpulan terakhir dari kisah tentang kapal itu adalah bahwa kita semua mesti memperlakukan semua dengan adil, mampu mengambil keputusan yang tepat di saat yang tepat juga dapat kita jadikan pelajaran hidup yang tentunya akan sangat bermanfaat.
Kisah II
Pada suatu siang yang sangat terik di sebuah Taman Kanak-Kanak, Ibu Guru yang baik hati sedang memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya yang masih imut-imut. Pada sesi tersebut Bu Guru memberikan tugas menggambar kepada murid-muridnya. Terlihat, banyak di antara mereka yang menggambar pemandangann alam yang tentunya sangat lazim kita lihat di kehidupan sehari-hari. Selain itu, ada juga murid yang menggambar anak muda yang sedang membantu nenek-nenek menyebrang, sepertinya semua menggambar hal-hal lazim yang masih wajar digambar oleh anak-anak seumuran mereka. Namun, terlihat ada seorang anak laki-laki yang membuat gambar lain daripada yang lain. Ia hanya mengisi kertas gambar A3-nya dengan goresan crayon berwarna hitam. Ibu Guru yang melihat tingkah laku anak itupun ikut terheran-heran dengan kelakuan anak tersebut. Beliau tak mengerti tentang apa yang akan digambar oleh anak didiknya tersebut. Selang agak lama, bel pulang berbunyi, beberapa anak telah mengumpulkan hasil karya mereka yang sudah jadi, sedangkan anak laki-laki yang unik tadi belum mengumpulkan hasil karyanya karena belum selesai. Oleh sang Guru, beberapa karya yang belum selesai diperbolehkan dilanjutkan di rumah.
Hari-hari berikutnya, saat anak-anak kembali disuruh menggambar si anak misterius tadi masih tetap menggambar warna hitam di seluruh keertas A3-nya. Hal tersebut terus berlanjut, sampai-sampai di rumah ia tetap membuat banyak kertas dengan warna yang sama lagi. Hingga pada suatu hari orang tua anak tersebut bersepakat untuk membawa anak itu ke psikiater, mereka ingin memastikan bahwa anak dari pasangan ini tak mengalami gangguan kejiwaaan.
Akhirnya, di tangan psikiater, sang anak mampu menyelesaikan hasil karyanya tersebut. Ternyata, yang lebih mencengangkan lagi, anak tersebut sudah menyelesaikan 400 gambar berwarna hitam, beberapa berwarna abu kehitaman, yang jika disusun berukuran 20×20. Setelah potongan-potongan gambar tersebut disambungkan, akhirnya tampak gambar akhir berupa ikan paus dengan ukuran seperti aslinya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa dari sang anak untuk mampu menampilkan hasil karya dengan ukuran sesuai asli.
Cerita II yang lebih singkat ini, memberikan pelajaran kepada kita bahwa untuk selalu berpikir besar, karena berpikir besar akan membawa kita selalu ke suatu jalan yang lebih luas dan tentunya akan memperluas cara pandang kita terhadap suatu masalah. Selain itu kisah ini juga mengajarkan kita untuk memandang sesuatu jangan hanya dari luarnya saja, karena apa-apa yang nampak baik belum tentu akan selalu baik bagimu dan apa-apa yang tampak buruk bisa jadi adalah yang terbaik bagimu.
Renungan
Orang-orang yang tangguh adalah orang-orang yang menjadi besar karena terpaan dan ujian yang datang tanpa henti, tetap berjuang dengan berbagai keterbatasan..kuat dalam kesendirian..tegar di tengah kekecewaan dan beramal optimal dalam ketidak terkenal
Budi Ferizqiawan Diana Putra @ bhayangkara.padmanaba.or.id
:: kembali ke atas ::




