Pelatihan Kader TB Pamulang Barat
Seperti yang diberitakan sebelumnya (lkc.or.id, 25/2), Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) dengan dukungan GF-ATM dan Dinas Kesehatan, saat ini menyelenggarakan program pelatihan dan penyuluhan kader Tuberkolosis (TB) diberbagai kecamatan, khususnya di Kabupaten Tangerang. Program tersebut mulai berjalan sejak Februari dan direncanakan berlangsung selama 3 bulan.
Sukses di periode Februari yang berhasil mengkover keseluruhan target di 9 kelurahan di Kecamatan Ciputat Timur dan Serpong, Maret ini, LKC kembali merambah dua kecamatan baru, yaitu kecamatan Pamulang dan Pondok Arum. Seperti yang dijelaskan koordinator program, dr. Zakia, selama Maret ini kader di 12 kelurahan akan mendapat pelatihan. Masing-masing 7 kelurahan di kecamatan Pamulang, dan 5 kelurahan di kecamatan Pondok Arum. Sesuai dengan time schedule yang telah disusun, pelatihan di berbagai kelurahan di Pamulang akan diselenggarakan pada tanggal 4, 8, 10, 17, 22, 23, dan 25 Maret. Sedangkan di daerah Pondok Arum, pelatihan dijadwalkan pada tanggal 9, 11, 15, 18, dan 24 Maret.
Untuk melihat acara ini lebih dekat, lkc.or.id pada Kamis (4/3) lalu, menyertai tim penyuluh LKC pada kunjungan pertamanya di bulan Maret. Kali ini, pelatihan dilakukan di kelurahan Pamulang Barat. Difasilitasi Lurah setempat yang menyediakan ruang di kantor kelurahan, tim LKC memulai pelatihan sekitar pukul 09.30. Setelah sedikit acara seremonial untuk membuka acara, pelatihan diawali dengan presentasi dr. Zakia tentang penyakit TB. Berangkat dari pengenalan terhadap TB, hingga cara penularan dan pengobatannya, istilah Pengawas Menelan Obat (PMO) kemudian diperkenalkan sebagai salah satu aktor penting dalam pemberantasan TB.
PMO seperti yang dijelaskan dr. Zakia, adalah orang yang bertugas untuk mengawasi penderita TB agar benar-benar menelan obatnya. Fungsi pengawasan ini menjadi relevan dan tidak berlebihan mengingat pengobatan pasien TB tergolong lama, paling cepat 6 bulan. Oleh karena itu, dengan kemungkinan terjadinya putus obat (tidak melanjutkan pengobatan) akibat berbagai faktor, peran PMO menjadi penting.
Melanjutkan presentasi dari dr. Zakia, anggota tim LKC yang lain, Bapak Adi Sastro, memberikan materi lanjutan yang bersifat lebih teknis. Dengan presentasi berjudul pelatihan kader TB, Bapak Sastro secara lugas memberikan trik dan tips agar para kader sukses menjalankan fungsinya sebagai PMO.
Mengakhiri acara, para kader mendapat kesempatan bertanya dalam sesi tanya jawab. Pada kesempatan ini, berbagai pertanyaan yang mengganjal disampaikan dan dijawab seluruhnya oleh tim penyuluh. Beberapa pertanyaan yang muncul salah satunya adalah kesalahkaprahan dalam menyikapi flek paru pada anak. Masyarakat karena ketidaktahuannya ternyata tidak menganggap flek paru sebagai TB, dan oleh karena itu, tingkat kesiagaannya juga tidak sebaik yang seharusnya. (Gk)
:: kembali ke atas ::



