Fikri, Sebuah Catatan Akhir
Abdullah Ichsanul Fikri (18 bulan), yang oleh keluarganya biasa dipanggil Fikri, putra satu-satunya pasangan Ngabdu Salam (33) dan Ani Purwaningsih (32) datang ke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) pada Senin (8/2). Dengan indikasi positif mengidap atresia bilier, dimana saluran empedu tidak terbentuk, Fikri kemudian dirujuk ke RSCM pada Rabu (10/2).
Menurut pengakuan kedua orang tuanya, Fikri mulai memperlihatkan gejala sakit pada usia dua bulan. Ketika itu Fikri sering rewel dan matanyapun berwarna kuning. Sempat menjalani pemeriksaan di RS Usada Insani yang kemudian dirujuk ke RSCM, orang tua Fikri akhirnya menghentikan pengobatan medis sejak Fikri berusia satu tahun. Sejak saat itu, Fikri hanya menjalani pengobatan alternatif yang belakangan juga tidak berlanjut. Pengobatan alternatif tersebut dilakukan di kampung halaman mereka, di Banyumas. Ngabdu Salam bahkan menyatakan bahwa selama menjalani perawatan alternatif, kondisi Fikri terlihat membaik, “Selain lebih gemuk, dia cukup aktif, selalu minta dititah (belajar jalan, -pen) keliling rumah”, lanjutnya.
Akan tetapi, usai tak lagi mendapat terapi alternatif, kondisi Fikri perlahan-lahan kembali memburuk. Perut dan skrotumnya membesar, serta tinjanya berwarna putih. Dari situlah, orangtua Fikri memutuskan untuk membawa putranya kembali berobat ke Jakarta, kali ini difasilitasi oleh LKC. Maka, pada Rabu (10/2) tersebut, menumpang ambulance LKC, Fikri beserta kedua orangtuanya berangkat ke RSCM. Berkat perhatian banyak media massa, LKC dan keluarga Fikri mendapati perlakukan khusus dari RSCM. Sejak turun dari ambulance, kepala humas RSCM terus mendampingi sejak dari loket pendaftaran hingga ruang kontrol. Bahkan, ketika pasien lain hanya ditangani dokter residen, Fikri langsung berada dalam observasi dokter spesialis anak RSCM.
Walau awalnya hanya diniatkan untuk melakukan konsultasi ulang (setelah lama tidak kontrol), menurut dokter spesialis anak DR. dr. Hanifah Oswari, SpA (k), usai mendapatkan hasil laboratorium selepas Ashar, Fikri disarankan untuk dirawat hari itu juga. Jadilah Fikri opname di ruang ODC (one day care) sejak sore pukul 18.00. Selain pembengkakan limpa, Fikri didiagnosis telah mengalami sirosis hati sebagai efek lanjutan dari penyakit atresia biliernya. Haemoglobin Fikri juga didapati sangat rendah. Inilah yang mendorong dokter untuk segera merawat Fikri. Menanggapi saran dokter tersebut, Ngabdu Salam hanya bisa pasrah, “Kami pasrah, dokter yang lebih tahu”, ucapnya. Belakangan diketahui, Fikri rupanya juga menderita hernia.
Menurut dr. Hanifah, rencana perawatan awal yang diberikan pada Fikri masih sebatas pada mengembalikan kondisi fisiknya. Dengan perut yang sangat besar, tim dokter akan menginjeksikan infus albumin yang diharapkan dapat mengurangi cairan yang memenuhi rongga perut Fikri. Pada perkembangannya, infus albumin yang awalnya akan diberikan sebanyak 3 kali @ 50 ml, akhirnya hanya diberikan dua kali. Selain itu dengan berat badan yang hanya 9,5 kg, Fikri menjalani diet untuk menaikkan bobotnya hingga 10 kg. Secara bertahap, Fikri juga mendapatkan transfusi darah yang rencananya akan diberikan empat kali hingga Sabtu (13/2). Tes laboratorium susulan juga dilakukan untuk memastikan langkah medis kedepan. Untuk itu, tim dokter masih perlu menunggu agak lama (sekitar 6 hari) untuk mendapatkan hasil laboratorium dari biakan urine dan darah Fikri yang baru diambil sampelnya pada Jumat (12/2).
Pada Sabtu (13/2), Fikri terlihat lebih rewel dari biasanya. Bukan karena mencari ibunya yang saat itu sedang dibawa salah satu media elektronik swasta nasional untuk tampil di acara mereka, namun karena ia diwajibkan berpuasa. Karena lapar dan haus, Fikri nyaris tidak bisa tenang seperti hari-hari biasanya.
Menurut dokter jaga saat itu, Fikri sengaja dipuasakan setelah diketahui tinjanya berwarna hitam tercampur darah. Hasil laboratorium juga mengindikasikan hal serupa, "Positif tiga", lanjut sang dokter. Untuk mengetahui sumber pendarahan tersebut, tim dokter terlebih dahulu memuasakan Fikri. “Hingga waktu yang belum ditentukan”, tambah ayah Fikri.
Ketika dikonfirmasi LKC, dokter memang menyatakan bahwa Fikri harus berpuasa hingga tinjanya tidak lagi bercampur darah dan hasil laboratorium menunjukkan pendarahannya telah negatif. Dari sana pula LKC diberitahu bahwa dampak dari rusaknya hati dapat menyebabkan gangguan tekanan pada pembuluh darah di sepanjang saluran cerna. Bila dipaksa tetap makan, hal ini dikhawatirkan akan memperparah kondisi Fikri. Namun pada Sabtu sore pukul 18, setelah dua kali pengamatan visual pada tinja Fikri yang tidak lagi bercampur darah, serta hasil laboratorium yang sedikit membaik, dokter mengijinkan Fikri diberikan sedikit susu.
Secara umum, kondisi Fikri pada hari Sabtu ini sebenarnya cenderung membaik. Muntah yang dialaminya pada Jumat, tidak berlanjut. Berat badannya juga kembali ke 9,5 kg setelah dalam dua hari terakhir turun ke 9,2 kg. Infus albumin tidak diberikan lagi, dan ukuran lingkar perutnya juga mengecil 1 cm dibandingkan hari pertama dirawat. Meski suhu tubuhnya masih sedikit diatas normal yaitu 36,7 derajat, namun ini jauh lebih baik dari hari sebelumnya yang mencapai 38,3 derajat celcius. Bahkan transfusi darah keempatnya sore itu direncanakan sebagai transfusi darah terakhir.
Sayangnya, pada Minggu malam (14/2) kondisi Fikri memburuk. Ia muntah darah akibat pembuluh darahnya pecah. Walau sempat dikabarkan harus masuk ICU, Fikri akhirnya tetap dirawat di ruang ODC. Untuk mengetahui persis bagian pembuluh darah mana yang pecah, tim dokter rencananya akan melakukan endoskopi pada Kamis (18/2) di RS Kelapa Gading akibat tidak lengkapnya alat medis terkait di RSCM. Akibat muntah darahnya tersebut, lagi-lagi Fikri kembali diharuskan berpuasa. Kali ini, menurut Ayah Fikri, berlangsung selama dua malam satu setengah hari. “Repot mas, rewel terus. Kuping sampai kami tutup pakai kapas dari cotton bud karena tidak tega ndenger rengekannya”, lanjut Ngabdu Salam.
Ketika kembali ditengok LKC pada Rabu (17/2), ayah Fikri berharap pemeriksaan endoskopi keesokan harinya bisa memberikan hasil yang positif. Meski berat badan Fikri turun jauh menjadi 8,8 kg, hal itu tampaknya wajar akibat besar perutnya yang nyaris kembali normal. Tak hanya itu, LKC juga melihat skrotum Fikri jauh lebih kecil (menyusut hingga 50%) dari hari pertama masuk RSCM. Melihat perkembangan positif ini, terlihat benar keceriaan di wajah kedua orangtua Fikri. Bahkan, tim dokterpun kemudian memindahkan Fikri ke bangsal anak pada sore hari.
Dengan menggunakan ambulance LKC, Kamis (18/2) siang, Fikri yang telah berpuasa sejak malam hari, berangkat ke RS Kelapa Gading untuk menjalani pemeriksaan endoskopi. Mengejutkan, pengamatan endoskopi mendapati banyaknya pembuluh darah yang pecah. Untuk memperbaiki keadaan, tim dokter kembali mengharuskan Fikri berpuasa. Mulai titik inilah kondisi Fikri mulai memburuk.
Pada Sabtu (20/2) siang, Fikri memasuki fase kritis setelah kembali mengalami muntah darah. Tidak berlangsung lama, karena pada pukul 14.50, ia meninggal dunia. Malam harinya, jenazah Fikri diberangkatkan ke Banyumas dengan ambulance LKC. Tiba di rumah duka hari Minggu (21/2) sekitar pukul 02.30 pagi, jenazah Fikri dikebumikan enam jam kemudian di pemakaman Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, Banyumas. (Gk)




