Thursday 24 April 2014

Telah di baca 1,446 kali

Ketulusan, Keikhlasan, Memaafkan & Jadi yang Terbaik

”Ketika kerja keras kita tidak dihargai, maka saat itu kita sedang belajar tentang Ketulusan. Ketika usaha dan kerja keras kita dinilai tidak penting, maka saat itu kita sedang belajar Keikhlasan. Dan ketika hati anda terluka sangat dalam karena tidak dihargai, maka saat itu kita sedang belajar tentang Memaafkan. Serta ketika ketiganya sudah dapat dipelajari dengan baik dan kita tetap bekerja keras, maka kita sedang berusaha untuk menjadi yang Terbaik.” itu adalah suatu ungkapan yang saya dapatkan dari seorang teman melalui bbm tadi pagi.

Dalam aktifitas pekerjaan, tentunya kita akan selalu berusaha untuk dapat bekerja dengan keras dan sungguh-sungguh agar pekerjaan kita dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan target yang ingin dicapai. Seluruh sumber daya yang kita miliki akan digunakan untuk dapat melaksanakan pekerjaan atau tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang diamanahkan dengan sempurna.

Tetunya kita juga berharap, ketika kita sudah melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya atau bahkan sekeras-kerasnya, kita akan mendapatkan perhatian, penilaian yang baik atau bahkan penghargaan dari atasan atau pimpinan kita. Dengan hal itu, kita merasa pekerjaan kita tidaklah sia-sia dan menunjang kemajuan perusahaan atau lembaga.

Namun seringkali, antara harapan dan kenyataan tidaklah sama. Dibanyak kesempatan kita mengalami bahwa kerja keras dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) sebuah pekerjaan tidaklah dihargai oleh atasan atau pimpinan kita. Justru seringkali kekurangan atau kesalahan kecil yang tidak sengaja kita lakukan yang justru mendapat perhatian besar. Wahai sahabat, ketika situasi ini terjadi saat ini maka sesungguhnya sahabat sedang belajar tentang ketulusan. Teruslah bekerja dengan baik, yakinlah ketika kita  tetap bekerja dengan sungguh-sungguh dan keras maka kita sedang menjadi karyawan yang terbaik.

Ketika suatu perusahaan atau lembaga berkembang dan meraih hasil-hasil terbaik, tentunya kita merasa bahwa kita juga memberikan kontribusi yang penting dalam keberhasilan tersebut. Kita sudah bekerja keras dengan melaksanakan tupoksi sebaik-baiknya, bahkan melakukan inovasi-inovasi baru yang cerdas untuk mencapai hasil yang lebih. Namun kenyataannya, kita seringkali mendapatkan penilaian dari atasan atau pimpinan kita bahwa kerja keras dan usaha inovasi kita tidaklah penting sama sekali. Wahai sahabatku, ketika keadaan tersebut sedang kita alami saat ini maka sesungguhnya sahabat sedang belajar tentang keihklasan. Teruslah bekerja dengan baik dan berinovasi, dan yakinlah bahwa kalau hal itu yang kita lakukan, maka kita sedang menjadi karyawan yang terbaik.

Dan ketika suasana hati kita merasakan sakit yang sangat mendalam karena kerja keras kita tidak dihargai, inovasi dan hasil kerja kita tidak dianggap penting oleh atasan atau pimpinan kita, maka sesungguhnya sahabat, kita sedang belajar untuk memaafkan. Maafkan mereka yang mungkin khilaf, maafkan mereka yang mungkin lupa, maafkan mereka yang mungkin belum sadar, maafkan mereka yang mungkin juga salah, dan maafkan mereka atas segala hal yang ada dalam pikiran positif kita. Teruslah bekerja keras sahabat, dan yakinlah ketika kita sudah memaafkan mereka maka sesungguhnya kita sedang menjadi karyawan yang terbaik.

Ayo sahabat, tunjukkan bahwa kita adalah karyawan yang terbaik, teruslah belajar tentang ketulusan, keihklasan dan memaafkan agar kita tetap menjadi yang terbaik.

Fastabiqul Khoirot

Manjadda wa jada

Manshobaro zhafira

*Ditulis oleh dr.Yahmin Setiawan, MARS (Direktur LKC Dompet Dhuafa)

 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Powered by Deadline Theme