Thursday 20 June 2013

Telah di baca 455 kali

Kontrol Hipertensi Dengan Pengendalian Gaya Hidup

Hipertensi, atau biasa disebut dengan tekanan darah tinggi, merupakan suatu kondisi dimana tekanan darah seseorang > 140 mmHg sistolik dan/atau > 90 mmHg diastolik. Tekanan darah tersebut merupakan pengukuran dalam milimeter air raksa (mmHg).

Tekanan darah sistolik merupakan tekanan darah saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi, sedangkan tekanan darah diastolik merupakan tekanan darah saat darah dari pembuluh balik masuk ke dalam jantung. Sebagian besar (90-95%) penyebab hipertensi tidak diketahui. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan bersifat menahun, tetapi dapat dikontrol.

Setiap tahun, 7 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat hipertensi. Problem kesehatan global terkait hipertensi dirasakan mencemaskan dan menyebabkan biaya kesehatan tinggi. Tahun 2000 saja hampir 1 miliar penduduk dunia menderita hipertensi. Jumlah ini diperkirakan akan melonjak menjadi 1,5 miliar pada 2025. Dua pertiga penderita hipertensi hidup di negara miskin dan berkembang. Prevalensi hipertensi di Indonesia 31,7 persen. Artinya, hampir 1 dari 3 penduduk usia 18 tahun ke atas menderita hipertensi. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007,  hipertensi adalah penyebab kematian penyakit tidak menular kedua terbanyak setelah stroke.

Untuk mengukur tekanan darah, digunakan alat yang disebut sfigmomanometer atau biasa dikenal dengan sebutan tensimeter. Tensimeter tersebut ada beberapa jenis, misalnya tensimeter dengan air raksa berbentuk kotak dengan meteran tegak, tensimeter dengan penunjuk jarum, serta tensimeter digital pada pergelangan tangan. Di antara alat pengukur tersebut, tensi meter dengan air raksa berbentuk kotak merupakan yang paling akurat.

Untuk menilai apakah seseorang mempunyai hipertensi, pengukuran tekanan darah dilakukan pada kondisi istirat, atau setidaknya 30 menit setelah aktivitas fisik, hal ini untuk mencegah kesalahan pengukuran akibat aktivitas. Pengukuran dilakukan dalam kondisi duduk, idealnya dua kali dalam selang waktu 6 jam. Pengukuran dapat dilakukan pada lengan kiri maupun kanan, dan sedikit perbedaan dapat ditemukan antara keduanya.

Hipertensi dibagi menjadi beberapa derajat, tergantung tingginya tekanan darah. Tekanan darah normal berkisar antara 90-120 milimeter air raksa sistolik dan 50-80 milimeter air raksa diastolik. Sebelum mencapai hipertensi, tekanan darah dapat meningkat di atas nilai normal, disebut prehipertensi yaitu apabila tekanan darah sistolik antara 120-139 milimeter air raksa atau diastolik 80-89 milimeter air raksa. Hipertensi derajat I ditemukan apabila tekanan darah antara 140-159 milimeter air raksa sistolik dan/atau diastolik 90-99 milimeter air raksa. Tekanan darah di atas 160 milimeter air raksa sistolik atau di atas 100milimeter air raksa disebut hipertensi derajat 2. Pembagian tersebut dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi hipertensi.

Kategori

Sistolik

Diastolik

Normal

<120

<80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi Derajat 1

140-159

90-99

Hipertensi Derajat 2

>160

>100

Hipertensi terjadi karena seseorang mempunyai satu atau lebih faktor risiko. Faktor risiko adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu penyakit. Faktor risiko hipertensi ada yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Faktor risiko yang tidak dapat diubah yaitu usia, jenis kelamin, dan faktor genetik. Pada orang-orang dengan usia 50 tahun ke atas, 50% di antaranya mengalami hipertensi. Hipertensi lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan wanita dengan perbandingan 2:1. Akan tetapi, setelah wanita mencapai menopause (mati haid) risiko tersebut menjadi sama. Faktor genetik pada hipertensi yaitu riwayat hipertensi pada orangtua. Pada sesorang yang orangtuanya memiliki hipertensi, 45% mengalami hipertensi, kemudian turun menjadi 30% apabila hanya salah satu orangtua.

Faktor risiko yang dapat diubah yaitu berat badan berlebihan (kegemukan), stress, merokok, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, konsumsi garam berlebihan, serta kadar kolesterol tinggi. Orang-orang yang gemuk 5x lebih rentan terhadap hipertensi dibandingkan orang dengan berat badan normal. Stress atau ketegangan jiwa (rasa murung, marah, dendam, takut, atau bersalah) menyebabkan pelepasan hormon adrenalin dari anak ginjal yang memaksa jantung bekerja lebih cepat dan lebih keras dibanding biasanya sehingga tekanan darah meningkat. Merokok menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah sehingga terjadi hipertensi. Kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, konsumsi garam dan kadar kolesterol tinggi (200mg/dL) juga mempercepat terjadinya hipertensi.

Sebagian besar hipertensi tidak memiliki gejala. Apabila menimbulkan gejala, biasanya gejalanya tidak khas seperti sakit kepala, gelisah, jantung berdebar-debar, pusing, penglihatan kabur, rasa sakit di dada, mudah lelah, dll. Selain itu dapat pula muncul keluhan akibat komplikasi pada organ, misalnya penglihatan kabur atau buta, kesemutan, sesak, nyeri dada, nyeri pinggang, kejang, lumpuh, gangguan kesadaran, hingga koma.

Terapi untuk hipertensi diutamakan dengan pengendalian gaya hidup. Pengendalian gaya hidup yang dimaksud yaitu mengurangi berat badan sesuai indeks massa tubuh yang dianjurkan (18.5-25 untuk orang asia), mengurangi asupan garam (dianjurkan sebanyak 5 gram atau satu sendok teh per hari), mengurangi stress, melakukan olah raga teratur berupa senam, jalan kaki, lari santai, atau berenang sebanyak 3-4x seminggu masing-masing 30-45 menit, dan berhenti berokok.

Apabila pengendalian gaya hidup tersebut tidak berhasil, barulah dimulai terapi dengan obat. Terapi dengan obat membutuhkan penyesuaian dosis sehingga perlu dilakukan kunjungan secara berkala untuk memantau keberhasilan terapi. Pada kunjungan pertama biasanya diberikan satu obat dengan dosis cukup rendah. Apabila tidak berhasil dosis dapat dinaikkan atau ditambahkan obat kedua dengan dosis kecil. Pemberian dua obat ini bertujuan agar efek samping yang terjadi lebih kecil. Sangat penting untuk meminum obat secara teratur walaupun tidak ada gejala dan tekanan darah dalam kondisi normal. Apabila terjadi gejala segeralah berobat ke dokter.

*cara mengukur indeks massa tubuh: berat badan dibagi (tinggi badan dalam meter, dikuadratkan)

Misalnya: tinggi badan 150 cm, dan berat badan 60 kg.

Maka indeks massa tubuh  =  = 26,66 (kelebihan berat badan)

Disusun oleh dr. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur LKC Dompet Dhuafa) dan Andra Hendriarto (Mahasiswa FKUI Semester 10 yang sedang magang di LKC Dompet Dhuafa)

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Powered by Deadline Theme