Istriku yang kunikahi tidaklah semulia Khadijah, istriku yang kunikahi juga tak setaqwa Aisyah, istriku yang kunikahi juga tidaklah setabah Fatimah.Istriku hanyalah seorang wanita akhir zaman yang memiliki cita-cita menjadi wanita solehah.
Pernikahan telah mengajarkanku kewajiban bersama dengan sang istri tercinta. Jika istriku menjadi tanah, maka akulah langit penaungnya, jika istriku hamparan ladang tanaman, maka aku harus siap menjadi pemagarnya. Jika istriku menjadi kiasan ternakan, maka akulah gembalanya. Jika istriku menjadi murid, maka aku harus siap menjadi gurunya.
Saat istriku seperti anak kecil, maka aku harus menjadikan tempat bermanjanya. Ketika istriku menjadi madu, aku akan teguk dengan sepuasnya. Jika istriku menjadi racun, maka akulah penawar bisanya.
Pernikahan telah menginsyafkanku betapa pentingnya kekuatan iman, kekuatan saling menerima kekurangan, kekuatan berbagi dan kekuatan untuk saling mengerti. Bagaimana belajar meniti sabar dan ridho, karena memiliki istri yang tak sehebat Khadijah, Aisyah ataupun Fatimah. Karena aku bukanlah Rasulullah, aku hanyalah seorang suami akhir zaman yang berusaha menjadi soleh.
Ditulis Oleh : Asep Hendriana – Manager Operasional LKC Dompet Dhuafa











