Monday 21 April 2014

Telah di baca 13,988 kali

Mengenal Cuci Darah (Hemodialisa)

Berdasarkan estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami penyakit gagal ginjal kronik. Sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup bergantung pada cuci darah.

Di Indonesia, berdasarkan Pusat Data & Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, jumlah pasien gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta penduduk, 60% nya adalah usia dewasa dan usia lanjut. Menurut Depkes RI 2009, pada peringatan Hari Ginjal Sedunia mengatakan hingga saat ini di Tanah Air terdapat sekitar 70 ribu orang pasien gagal ginjal kronik yang memerlukan penanganan terapi cuci darah. Sayangnya hanya 7.000 pasien gagal ginjal kronik atau 10% yang dapat melakukan cuci darah yang dibiayai program Gakin dan Askeskin.

Dari data PT Askes tahun 2009 menunjukkan insidensi gagal ginjal di Indonesia mencapai 350 per 1 juta penduduk, saat ini terdapat sekitar 70.000 pasien gagal ginjal kronik yang memerlukan cuci darah.

Cuci darah (Hemodialisa, sering disingkat HD) adalah salah satu terapi pada pasien dengan gagal ginjal yang dimana dalam hal ini fungsi “pencucian darah” yang seharusnya dilakukan oleh ginjal diganti dengan mesin. Dengan mesin ini pasien tidak perlu lagi melakukan cangkok ginjal, pasien hanya perlu melakukan cuci darah secara periodik dengan jarak waktu tergantung dari keparahan dari kegagalan fungsi ginjal.

Fungsi ginjal untuk “pencucian darah” adalah dengan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, ureum, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain.

Cuci darah dilakukan jika ginjal kita tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik atau biasa disebut dengan gagal ginjal. Kegagalan ginjal ini dapat terjadi secara mendadak (gagal ginjal akut) maupun yang terjadi secara perlahan (gagal ginjal kronik) dan sudah menyebabkan gangguan pada organ tubuh atau sistem dalam tubuh lain. Hal ini terjadi karena racun – racun yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal tidak dapat dikeluarkan karena rusaknya ginjal. Kelainan yang dapat terjadi yaitu meningkatnya kadar keasaman darah yang tidak bisa lagi diobati dengan obat – obatan, terjadinya ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, kegagalan jantung memompa darah akibat terlalu banyaknya cairan yang beredar di dalam darah, terjadinya peningkatan dari kadar ureum dalam tubuh yang dapat mengakibatkan kelainan fungsi otak, radang selaput jantung, dan perdarahan.

Cuci darah dapat dilakukan dalam sementara waktu apabila kerusakan fungsi ginjal bersifat sementara, biasanya sering terjadi pada kasus gagal ginjal akut. Tetapi, pada kasus gagal ginjal kronik dimana kerusakan fungsi ginjal bersifat permanen, maka cuci darah dilakukan seumur hidup pasiennya.

Rata-rata setiap orang memerlukan waktu 9-12 jam dalam sepekan untuk mencuci seluruh darah yang ada, tetapi karena dianggap terlalu lama, maka dibuat waktu cuci darahnya menjadi 3 kali  pertemuan dalam sepekan dan disetiap pertemuannya dilakukan selama 3-4 jam. Tentu saja akan berbeda pada setiap orang yang memerlukan cuci darah, hal itu sangat tergantung dari derajat kerusakan ginjalnya, diet sehari-hari, penyakit lain yang menyertainya dan lain-lain. Sehingga dokterlah yang akan menentukannya untuk setiap pasien dengan tepat.

Mekanisme pada mesin cuci darah adalah dengan memompakan darah pasien ke dalam mesin kemudian lalu dibersihkan dan dipompakan lagi ke dalam tubuh. Darah yang dipompakan ke dalam tubuh sekitar 200 – 300 ml/menit secara kontinu selama 4 – 5 jam oleh karena arus dari pembuluh darah yang deras maka diperlukan akses intravena yang cukup besar, sehingga dibuat hubungan antara arteri dan vena pasien yang biasanya disebut dengan cimino yang diletakkan di lipatan siku.

Efek samping yang dapat terjadi pada pasien hemodialiasis adalah keram pada otot, pusing lemah, mual, muntah, infeksi pada pembuluh darah, berkunang – kunang, kelainan ritme jantung, perdarahan , gangguan pencernaan.

Untuk pasien dengan gagal ginjal, asupan makanan dan cairan akan membuat pasien menjadi lebih sehat, karena didapatkan banyak pasien gagal ginjal dengan malnutrisi terutama akibat dari rendahnya konsumsi makanan, perasaan mual, pembatasan diet, serta pengobatan yang dapat menyebabkan efek samping saluran pencernaan, oleh karena itu diperlukan pengaturan diet yang seimbang dan tepat untuk pasien gagal ginjal, berikut adalah diet yang tepat pada pasien dengan gagal ginjal :

1. Cari tahu berat tubuh ideal

Pasien harus selalu menimbang badannya setiap hari, jika terjadi kenaikan atau penurunan berat badan yang terlalu banyak, pasien harus segera menghubungi dokternya. Karena kenaikan berat badan yang terlalu banyak yang terjadi bersamaan dengan bengkak dan sesak dapat merupaka tanda – tanda terjadinya kelebihan cairan dalam tubuh pasien

2. Memenuhi kebutuhan kalori/energi dan protein sehari – hari

Kebutuhan energi bagi pasien dengan gagal ginjal adalah 30 – 35kkal/kgBB/hari, berat badan yang dimaksud adalah berat pada saat pasien tidak bengkak.

Sebelum pasien menjalani cuci darah, pasien biasanya menjalani diet rendah protein, namun setelah menjalani cuci darah jumlah dari asupan protein dapat ditingkatkan secara perlahan, jenis – jenis makanan yang mengandung protein yaitu daging segar, daging ayam, ikan dan seafood lainnya, telur, serta produk susu, walaupun asupan protein juga harus tetap dibatasi, pasien dapat bertanya kepada dokter lebih lanjut untuk mengetahui berapa jumlah protein yang tepat untuk dikonsumsi pasien dialysis. Karena kebutuhan protein pada pasien sangat bergantung pada jenis gagal ginjal yang dialami pasien dan cuci darah yang dijalaninya.

3. Rendah natrium

Natrium adalah mineral yang sering ditemukan secara natural pada makanan, biasanya banyak terdapat pada garam dan daging yang diproses seperti sosis, snack – snack yang asin seperti crackers maupun keripik, ham, dan bacon. Memakan terlalu banyak natrium akan menyebabkan pasien selalu haus dan menyebabkan tubuh menahan lebih banyak cairan

4.  Mengurangi asupan cairan

Cairan disini tidak hanya berbentuk air tetapi juga segala makanan yang berbentuk cairan pada suhu kamar, buah – buahan dan sayuran juga mengandung banyak cairan sehingga harus dilakukan penghitungan cairan juga terhadap makanan tersebut. kebutuhan cairan dihiting dari berat kering pasien yaitu berat saat pasien baru saja menjalani hemodialisa saat semua cairan berlebih sudah dibuang, biasanya kebutuhan cairan antara 500 -1000 ml per harinya, namun pasien harus bertanya lebih lanjut ke dokternya berapa cairan yang sebenarnya diperbolehkan utnuk dikonsumsi.

Cara mengontrol rasa haus dalam menjalani pengurangan asupan cairan antara lain dengan mengurangi makanan asin yang dapat merangsang rasa haus, minum air secara perlahan dengan gelas berukuran kecil, bekukan minuman dalam bentuk es batu berukuran kecil dan kunyah secara perlahan.

5.  Mengurangi kadar kalium

Kalium adalah elektrolit yang dapat mempengaruhi ritme dari jantung, biasanya kadar kalium akan meningkat akibat proses cuci darah. Makanan – makanan yang mengandung kadar kalium yang tinggi adalah alpukat, buncis, kiwi, jeruk, kentang, bayam, pisang, yoghurt, kismis, jambu, kentang, kacang

6.  Mengurangi mineral fosfat

Dalam keadaan gagal ginjal fosfat akan menumpuk dalam darah sehingga menarik kalsium dari tulang dan menyebabkan tulang rapuh dan mudah patah. Makanan yang kaya akan fosfat antara lain susu, keju, es krim, buncis, kacang polong, minuman bersoda, bir, coklat, dan kacang – kacangan.

 

Disusun oleh dr. Yahmin Setiawan, MARS (Direktur LKC Dompet Dhuafa) dan Faradila RT (Mahasiswa FKUI Semester 10 yang sedang magang di LKC Dompet Dhuafa)

 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Powered by Deadline Theme