Sunday 23 November 2014

Telah di baca 983 kali

Surat Cinta untuk Sahabatku

Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta saudara-saudariku yang Insya Allah tetap mencintai Allah dan Rasul-Nya diatas segalanya, karena hanya cinta itu yang dapat mengalahkan, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda, lebih bermakna dan lebih indah.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara-saudariku yang kerap kali terisi oleh cinta selain-Nya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karena-Nya, lalu didalam relung hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah dimana keikhlasan. Maka saat ini yang kurasakan hanyalah kekecewaan dan kelelahan, karena yang kulakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses.

Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa saudara-saudariku yang mulai lelah menapaki jalan-Nya. Ketika seringkali mengeluh, merasa terbebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang teramat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan dan kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan ruh saudara-saudariku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu dimanakah kejujuran diletakkan? dan kini terabaikan sudah secara nurani yang bersih, saat ibadah hanyalah rutinitas belaka, saat fisik dan fikiran disibukkan oleh dunia, saat wajah menampakkan kebahagiaan yang semu, coba lihat hatimu! menangis, tertawa atau merana??

Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri saudara-saudariku yang sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri. Sungguh tiada satupun yang membuat kita lebih dihadapan-Nya selain ketakwaan. Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita masih bergulat terus dengan kefanaan.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati saudara-saudariku yang mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, dan saat tiada rasa berdosa ketika menzhalimi diri dan saudaranya.

Akhirnya, surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu, hingga ia dapat menerangi wajah-wajah disekelilingnya, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya.

Semoga bisa membangkitkan iman yang sedang mati atau jalan ditempat, berdiam diri tanpa ada sesuatu amalan pun yang dapat dikerjakan. It’s works for me and I hope same as you. Kembalikan semangat itu sahabatku, ada Allah dan orang-orang beriman yang selalu menemani kita dikala hati ‘lelah’. “Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, tetapkan hati ini pada agama-Mu, pada taat kepada-Mu dan dakwah dijalan-Mu”

Wallahu’alam bishowab, Semoga Bermanfaat.

Ditulis oleh : Asep Hendriana, Manager Operasional LKC Dompet Dhuafa.

 

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Powered by Deadline Theme