Logo
Blog

Kunci Itu adalah Ilmu


Telah di baca 305 kali

6 February 2012

Teman, apa manfaat kunci bagi kita? Kunci memiliki manfaat sebagai pembuka segala sesuatu. Pintu yang terkunci, dengan keberadaan kunci mampu kita buka, dan ruangan tertutup pun dapat kita masuki. Terbayangkan bagaimana bila dunia ini tidak mengenal kunci ?

Mengapa saya mengambil judul ‘Kunci itu adalah ilmu’, karena ilmu merupakan kunci untuk menyelesaikan setiap persoalan. Ilmulah yang menjadi titik awal sebelum kita melakukan sesuatu. Dari hal paling terkecil di dunia ini, sesungguhnya membutuhkan ilmu.

Contoh yang paling mudah – karena saya hobi dunia masak dan kuliner – kalau kita ingin memasak makanan (yang sederhana sekalipun)   tetap membutuhkan ilmu – mulai dari cara menyalakan kompor, membersihkan bahan-bahan, takaran bumbu, bahkan memotong sayuran pun ada ilmunya. Ini baru satu contoh saja.

Contoh lain : jarak tempuh dan waktu perjalanan menuju suatu tempat bisa dipersingkat, ketika kita tahu ‘ilmunya’. Yaitu ilmu jalan tembus tersingkat menuju tempat tujuan. Tanpa ilmu, bisa jadi kita lama sampai di tujuan karena diiringi ‘nyasar’ dan harus tanya-tanya dulu. Atau yang lebih parah kita sama sekali tidak sampai ke tujuan dan terpaksa pulang kembali.

Karena selain sebagai karyawati saya juga sebagai ibu rumah tangga, maka contoh lain yang saya ambil adalah bila kita membersihkan lantai alias menyapu. Supaya hasil ‘sapuan’ kita tidak membuat lantai semakin kotor, kita butuh ilmu.

Mencuci juga demikian. Coba lihat anak-anak kita yang belum punya ilmu dan pengalaman dalam masalah ini, bisa jadi niatnya membersihkan kotoran malah memperparah keadaaan, karena niat baiknya tidak diiringi dengan ilmu yang cukup. Maka tanpa ilmu, bisa jadi suatu pekerjaan selesai, tapi tidak sesuai target yang diinginkan. Atau justru malah tidak selesai dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.

Berbicara soal keberhasilan, jadi teringat dengan taujih Ustad beberapa hari lalu di LKC Dompet Dhuafa, mengambil dari surat An Najm ayat 48 : “Sesungguhnya Dialah (Allah) yang memberikan kekayaan dan kecukupan.”  Allah tidak mengatakan  : “Sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kemiskinan”, padahal ayat-ayat sebelumnya mengatakan hal-hal yang berlawan kata seperti  kematian dan kehidupan, laki-laki dan perempuan, dst.

Jadi – kata ustad – kemiskinan itu bukan dari Allah,  Allah hanya memberikan kekayaan dan kecukupan. Wah, kalau mau bahas ini di lain waktu deh ya. Sekarang kita kembali lagi ke bahasan kita ini, bahwa  sesungguhnya Allah Maha Mengetahui bahwa ilmu adalah pangkal dari segala sesuatu, karena itu ayat pertama yang Allah sampaikan kepada kita adalah Iqro  (bacalah). Karena dengan membaca kita mendapatkan ilmu. Dan Allah SWT senantiasa  memotivasi kita untuk selalu belajar, dengan meninggikan derajat mereka sebagaimana firman-Nya dalam Qs Al Mujadalah ayat 11 :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat… (Q.s. al-Mujadalah : 11)

Begitu juga dengan hadits-hadits Rasulullah, banyak yang memotivasi kita untuk selalu belajar, diantaranya :

Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim)

Keutamaan lainnya dari ilmu adalah dapat mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun  di akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi :

Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu (HR. Thabrani)

Bersyukurlah bila kita menjadi orang yang senantiasa haus akan ilmu, selalu mau belajar, selalu senang menerima masukan dari siapapun – bahkan dari anak-anak kita – karena ilmu bisa berasal darimana saja.

Jadi, bila ingin beribadah awalilah dengan ilmu, shalat membutuhkan ilmu, tanpa ilmu shalat kita hanya seperti orang yang berolah raga, menggerakkan badan tanpa memahami makna doa yang kita baca. Menutup aurat membutuhkan ilmu, aurat mana saja yang wajib kita tutup dan siapa saja yang boleh melihat aurat kita, demikian juga ibadah-ibadah lain. Tanpa ilmu, bisa jadi kita menutup aurat atau beribadah sekedarnya saja, padahal Islam punya aturannya sendiri.

Oh ya, satu lagi, bahwa dengan ilmu seseorang akan semakin bijaksana melihat segala persoalan, tidak parsial memandang setiap persoalan, tidak mudah memvonis dan menganggap bersalah orang lain, dan mampu bersikap sebagaimana ulama-ulama salafusshalih dalam menapaki kehidupan.

Yang perlu kita camkan adalah bahwa kalaupun ilmu kita belum sempurna, bukan berarti menghalangi kita dari melaksanakan ibadah. Tetaplah  melaksanakan ibadah sambil tetap berusaha memperbaharui ilmu-ilmu kita.

Jadi, berusahalah merutinkan waktu kita untuk belajar, terutama ilmu-ilmu yang akan membawa kita pada kebaikan-kebaikan dan kehidupan yang baik setelah wafat. Rutinkan mengaji dan mengkaji ayat-ayat Allah, karena dengan begitu Allah akan memelihara diri kita dari kemaksiatan.

Jangan pernah berfikir “ percuma mengaji kalau masih melakukan maksiat, dsb.” Berfikirlah bahwa  orang yang mengaji saja masih demikian, apalagi kalau tidak mengaji. Karena tidak ada yang sia-sia di sisi Allah. Bila kita mendekati- Nya dengan berjalan, maka Allah akan menghampiri kita dengan berlari. Bila kita mendekat kepada Allah sejengkal, maka Dia mendekat sehasta. Dan salah satu jalan mendekat pada Allah dan meraih keridhoan-Nya adalah dengan selalu menuntut ilmu. So, keep learning !

By Siti Rostina, Kepala Logistik LKC Dompet Dhuafa

 

 


Related Post

No Comments Yet - be the First!

Leave a Reply

You must be login to post a comment.


Login Please

To start connecting please log in first.