Logo
Blog

Memaknai Sebuah Kekayaan


Telah di baca 369 kali

2 February 2012

Sebuah kisah dari Wartawan Kompas yang ikut dalam liputan perjalanan pejabat Indonesia ke luar negeri.

Ia menuturkan; Seorang usahawan besar dan pejabat tinggi Indonesia menelepon ke kamar saya. ”Sudah bangun? Menu hotel tidak berubah. Kita makan di luar mungkin lebih asyik. Tetapi di warung sederhana saja, ya,” ujar pria berusia 62 tahun, belum lama ini.

Kami pun menyusuri trotoar Washington DC yang resik kendati pohon-pohon tiada henti meluruhkan daunnya. Tiba di sebuah jalan tidak jauh dari gedung Bank Dunia, pembesar ini mengajak masuk ke sebuah rumah makan prasmanan.

Seusai makan, lelaki tadi mengungkapkan bahwa makan berdua tadi ”hanya” menghabiskan uang 18 dollar AS (sekitar Rp 162.000). Ia berterus terang, uang makan tadi berasal dari anggaran laundry yang tak jadi ia gunakan. ”Bayangkanlah, masak, sih, hanya cuci sepasang pakaian dalam dan kaus kaki kena biaya 60 dollar AS. Daripada tidak ridho, mending saya cuci sendiri semalam dan pagi-pagi ini sudah kering,” ujarnya sambil tergelak-gelak. Sisa uang laundry, sebesar 42 dollar AS, ia cadangkan untuk makan siang. ”Besok kita pakai strategi ini lagi, yah,” katanya sambil terbahak-bahak.

Gaya hidup pejabat tadi sama sekali tidak mencerminkan bahwa ia kikir. Ia ”tidak hitungan”. Ia membangun lebih dari 200 masjid serta menyantuni kaum fakir dan orang sakit. Ia mendirikan sekolah untuk golongan marjinal. Kalau ia sampai mencuci sendiri pakaian dalam dan kaus kakinya, tentu bukan karena ”hitungan ekonomi”. Uang 60 dollar AS jelas bukan apa-apa. Namun, tabiatnya memang unik, tetapi inspiratif. Untuk taraf seperti dia, di mana uang bukan masalah, sangat menyenangkan kalau bisa berbuat sesuatu yang membangkitkan ria, bahagia, dan tawa lebar.

Akan tetapi, apa yang ia lakukan sebetulnya mengandung pesan ”tersembunyi”. Ia ingin mengajak warga hidup bersahaja. Untuk apa cuci kemeja 60 dollar AS? Lebih baik cuci sendiri dan uang itu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. ”Kalau bisa sederhana, mengapa harus hidup mewah?”

Bagi dia, kekayaan tidak ditunjukkan dengan mengenakan kemeja seharga Rp 80 juta. Tidak dengan arloji seharga Rp 3 miliar. Bukan juga dengan membeli 80 mobil mewah, lalu menjejerkan mobil-mobil seharga di atas Rp 2 miliar per unit itu di rumahnya.

Seseorang benar-benar kaya kalau ia bisa hidup berbagi dan bersahaja. Ia bangun rumah sakit untuk kaum papa, tempat tinggal untuk kaum terpinggirkan, sekolah gratis untuk karyawannya. Semua aktivitas ini dilakukan tanpa publikasi, tanpa panggung, tanpa masyarakat lain harus tahu bahwa dia berbuat sesuatu yang baik.

Orang-orang berduit itu bisa disebut kaya kalau, misalnya, membangun sumur untuk masyarakat miskin di daerah tandus Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Membangun pipa puluhan kilometer untuk mengalirkan air bersih ke desa-desa miskin atau ke sawah-sawah petani.

Tabiat orang-orang Indonesia yang benar-benar kaya justru terkesan unik. Sejumlah usahawan besar Indonesia, sebutlah misalnya Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaja, Sukanta, dan Trihatma Haliman, justru sangat bersahaja. Sudono, Eka, dan Trihatma jarang makan di restoran mahal. Mereka lebih suka menyantap makanan buatan istrinya atau makanan secukupnya dari kantin dekat kantor.

Perilaku R Budi Hartono, pemilik Djarum dan BCA, juga demikian. Salah seorang terkaya di Indonesia ini langkas membantu orang, rajin membuka banyak usaha baru agar lebih banyak orang bisa bekerja. Ia sendiri makan sederhana. Ruang kerjanya pun sederhana, jauh dari mewah. (Baca : Kompas, 5 Desember 2011)

Sekali lagi ini adalah pilihan, ini bukan perkara benar atau salah, halal atau haram, tapi Kita berbicara tentang “value”, nilai, apalagi Kita bekerja disebuah lembaga sosial yang berkhidmat untuk dhuafa. Seharusnya kita bisa lebih memiliki sense, taste yang lebih, karena Kita sering bersinggungan dengan mereka.

Tapi jangan sampai pula, karena ingin bersahaja, sederhana dan memiliki “value” lebih, kemudian mengorbankan asas profesionalisme, jadi gatek (gagap teknologi), kuper (kurang pergaulan) atau bahkan ketinggalan zaman, tergerus oleh arus perkembangan zaman yang begitu cepat. Apalagi banyak juga teknologi terkini yang dapat membantu kita dalam bekerja. Misal, dengan Blackberry Messenger, kita ngga perlu repot-repot untuk mengumpulkan orang untuk sebuah meeting atau membuat sebuah kebijakan penting perusahaan. Tapi akan sungguh kurang pantas, sekali lagi kurang pantas bukan tidak pantas, ketika seorang anak SD ke sekolah membawa Blackberry, dan itu sebuah pemandangan yang tidak sulit untuk ditemukan.

Jadi kata kunci nya adalah kepantasan, keteladanan, proporsional, etika, kewajaran dan bisa diterima secara logika. Kita harus bisa membedakan mana “kebutuhan” dan mana “keperluan”. Butuh pasti perlu, tapi perlu belum berarti butuh. So sahabatku, semoga kita bisa menjadi orang yang arif, bijak dan pandai dalam memaknai kekayaan. Karena pada prinsipnya kita adalah lemah dan fakir. Kekayaan adalah amanah, titipan dari yang Maha Memiliki, yang Maha Menggenggam dunia ini beserta seluruh isinya, Dialah Allah, Allah yang Maha Kaya, yang Maha Memiliki Segalanya.

Wallahu’alam, semoga bermanfaat

Asep Hendriana, Manager Operasional, LKC Dompet Dhuafa


Related Post

No Comments Yet - be the First!

Leave a Reply

You must be login to post a comment.


Login Please

To start connecting please log in first.